Translate

Sabtu, 10 Maret 2012

Gunung Bromo

Pesona indahnya gunung ini memang mudah mengikat banyak perhatian penikmat wisata Alam. Mulai dari wisatawan Mancanegara sampai Lokal. Fasilitas yang ada pun sekarang cukup memadai karena transport dan hotel sudah cukup memadai dan cukup bagus. ketika disana kita pun tidak hanya menikmati gunung tersebut. ada berberapa hal yang dapat kita lakukan disana Misalnya menikmati Matahari terbit dan terbenam dari puncak bromo tersebut.

Tentang Gunung Bromo

Gunung Bromo merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Timur. Tempat wisata alam ini terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di timur kota Malang, Jawa Timur. Pengunjungnya bukan hanya wisatawan lokal, bahkan banyak yang berasal dari luar negeri. Dengan pemandangan yang khas membuat Bromo layak menjadi tujuan wisata.

Kesan Tentang Gunung Bromo

Dingin, begitulah yang akan dirasakan saat pertama kali keluar dari mobil. Suhu di Gunung Bromo mencapai 10 derajat bahkan sampai 0 derajat Celsius saat menjelang pagi. Maka, Sebaiknya mempersiapkan pakaian dingin, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki, syal untuk mengatasinya. Tapi, bila melupakan perlengkapan tersebut, ada banyak pedagang yang menawarkan dagangannya berupa topi, sarung tangan, atau syal.



Melihat Sunrise Di Gunung Bromo dari Pananjakan

Pengunjung biasa mengunjungi kawasan ini sejak dini hari dengan tujuan melihat terbitnya matahari. Untuk melihatnya, kita harus menaiki Gunung Pananjakan yang merupakan gunung tertinggi di kawasan ini. Medan yang harus dilalui untuk menuju Gunung Pananjakan merupakan medan yang berat. Untuk menuju kaki Gunung Pananjakan, harus melalui daerah yang menyerupai gurun yang dapat membuat Anda tersesat. Saat harus menaiki Gunung Pananjakan, jalan yang sempit dan banyak tikungan tajam tentu membutuhkan ketrampilan menyetir yang tinggi. Untuk itu, banyak pengunjung yang memilih menyewa mobil hardtop (sejenis mobil jeep) yang dikemudikan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar berasal dari suku Tengger yang ramah dengan para pengunjung.

Sampai diatas, ada banyak toko yang menyediakan kopi atau teh hangat dan api unggun untuk menghangatkan tubuh sambil menunggu waktu tebitnya matahari. Ada pula toko yang menyewakan pakaian hangat. Menyaksikan terbitnya matahari memang merupakan peristiwa yang menarik. Buktinya, para pengunjung rela menunggu sejak pukul 5 pagi menghadap sebelah timur agar tidak kehilangan moment ini. Anda pun tidak selalu bisa melihat peristiwa ini, karena bila langit berawan, kemunculan matahari ini tidak terlihat secara jelas. Namun, saat langit cerah, Anda dapat melihat bulatan matahari yang pertama-tama hanya sekecil pentul korek api, perlahan-lahan membesar dan akhirnya membentuk bulatan utuh dan memberi penerangan sehingga kita dapat melihat pemandangan gunung-gunung yang ada di kawasan ini. Antara lain, Gunung Bromo, Gunung Batok, atau Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.




Kawah dan Lautan Pasir Bromo

Selesai menyaksikan matahari terbit, Anda dapat kembali menuruni Gunung Pananjakan dan menuju Gunung Bromo. Sinar matahari dapat membuat Anda melihat pemandangan sekitar. Ternyata Anda melewati lautan pasir yang luasnya mencapai 10 km². Daerah yang gersang yang dipenuhi pasir dan hanya ditumbuhi sedikit rumput-rumputan yang mengering. Tiupan angin, membuat pasir berterbangan dan dapat menyulitkan Anda bernafas.

Untuk mencapai kaki Gunung Bromo, Anda tidak dapat menggunakan kendaraan. Sebaliknya, Anda harus menyewa kuda dengan harga Rp 70.000,- atau bila Anda merasa kuat, Anda dapat memilih berjalan kaki. Tapi, patut diperhatikan bahwa berjalan kaki bukanlah hal yang mudah, karena sinar matahari yang terik, jarak yang jauh, debu yang berterbangan dapat membuat perjalanan semakin berat.

Sekarang, Anda harus menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai 250 anak tangga untuk dapat melihat kawah Gunung Bromo. Sesampainya di puncak Bromo yang tingginya 2.392 m dari permukaan laut, Anda dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap. Anda juga dapat melayangkan pandangan Anda kebawah, dan terlihatlah lautan pasir dengan pura di tengah-tengahnya. Benar-benar pemandangan yang sangat langka dan luar biasa yang dapat kita nikmati.
Share:

Air Terjun Nungnung

Nungnung adalah nama dari sebuah desa kecil, terletak 40 kilometer sebelah utara kota Denpasar. Desa ini berhawa sejuk dengan ketinggian lebih kurang 900 meter di atas permukaan laut.
Di desa inilah terdapat sebuah air terjun yang mempunyai ketinggian 50 meter dengan debit air yang cukup besar.
Untuk mencapai lokasi air terjun ini, kita harus menelusuri persawahan berbukit sekitar 2 Kilometer dari jalan raya.
ImageMenikmati Panorama alam yang ada sepanjang perjalanan menuju lokasi air terjun ini akan menambah kagum kita akan kebesaran dan kemahakuasaan sang Pencipta & perjalanan menuju lokasi air terjun ini merupakan sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.
Share:

Air Terjun Srigethuk, Wonosari Gunung kidul

 
 KABUPATEN Gunungkidul di Provinsi DI Yogyakarta makin terkenal dengan pantai-pantai barunya yang indah. Namun, selain pantai, wilayah ini juga dianugerahi dengan keindahan alam lain yakni gua dan air terjun. Air terjun Srigethuk adalah salah satu lokasi wisata baru yang menjadi buah bibir selama setahun terakhir ini.
Ketika saya berkunjung ke Srigethuk akhir pekan lalu, kesan pertama saya adalah adanya kemiripan dengan Green Canyon di Jawa Barat. Namun, tentu saja setiap lokasi memiliki keunikan sendiri-sendiri.
Pada dasarnya, inti objek wisata Srigethuk ini adalah tiga air terjun yang berada dalam satu lokasi. Ketiga air terjun tersebut jatuh di bebatuan yang sama kemudian bersama-sama mengalir di Sungai Oya. Masing-masing air terjun tersebut berasal dari tiga sumber mata air, yaitu Dong Poh, Ngandong, serta Bleberan. Selain ketiga air terjun utama, ada beberapa air terjun kecil — dalam bahasa Jawa disebut kriwikan — di lokasi tersebut.
Objek wisata ini masih cukup baru sehingga infrastruktur pun masih terbatas. Namun, jangan khawatir, sarana dasar seperti toilet dan warung makan sudah tersedia di sini. Hingga saat ini, objek wisata Srigethuk masih dikelola secara lokal oleh pihak Desa Bleberan.
Walaupun sarana masih terbatas, pihak pengelola telah membangun tangga batu dari tempat parkir menuju ke tepi sungai, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir ketika menuruni tebing. Butuh waktu sekitar 5-10 menit untuk mencapai bibir sungai. Setibanya di pinggir sungai Oya, Anda akan dimanjakan dengan paduan warna kehijauan sungai serta tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertiup angin.
Dari sini Anda tidak dapat langsung melihat air terjun utama, hanya sebuah air terjun kecil di kejauhan. Anda harus menaiki rakit untuk mencapai air terjun Srigethuk. Di sini Anda harus membayar Rp 5.000 per kepala untuk perjalanan pulang-pergi. Ada dua buah rakit yang beroperasi di sungai itu, yang mengangkut wisatawan secara bergantian.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai air terjun utama. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun rakit berjalan sangat lambat. Dari atas rakit Anda dapat mengabadikan pemandangan yang memang mayoritas didominasi warna hijau. Semakin dekat, air terjun Srigethuk (yang juga dikenal dengan nama Slempret) ini semakin menakjubkan. Ketiga air terjun jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Ketiganya bergabung menjadi satu di bebatuan yang berwarna kekuningan di bawahnya.
Setelah turun dari rakit Anda harus menyeberangi batu-batu basah itu untuk mendekati air terjun. Rasakan sensasi mandi di bawah Srigethuk! Banyak wisatawan yang memanfaatkan waktu untuk mandi dan berenang di sungai sekitar air terjun. Hijaunya air di sini adalah karena lumut, bukan karena limbah, sehingga aman untuk mandi.
Beberapa bagian dari Gunungkidul merupakan tanah tandus sehingga air yang berasal dari Sungai Oya dan air terjun Srigethuk bagaikan oase di Desa Bleberan ini. Air dimanfaatkan untuk pengairan daerah pertanian penduduk setempat. Vegetasi yang umum di wilayah tersebut adalah jagung, jati, serta kayu putih.
Bila sudah puas bermain-main di air terjun, Anda dapat menumpang rakit untuk kembali. Apabila perut sudah melilit, ada beberapa warung makan di sekitar tangga menuju ke tempat parkir. Cobalah salah satu menu khas Gunungkidul, yaitu tiwul. Tiwul adalah makanan yang dibuat dari singkong. Secara umum, tiwul manis dimakan untuk makanan ringan.
Menuju ke Srigethuk
Dari Yogyakarta, Srigethuk dapat dicapai melalui jalan Yogya-Wonosari. Sebelum sampai di Wonosari, tepatnya setelah lapangan udara Gunungkidul, Anda harus membelok ke kanan menuju ke Playen. Sampai di pertigaan pasar Playen, Anda kembali membelok ke kanan untuk menuju ke arah Desa Bleberan. Setelah itu akan ada penanda arah untuk menuju ke Srigethuk.
Tanda-tanda yang tersedia cukup banyak. Jalanan dari Yogyakarta hingga ke mulut Desa Bleberan sangat baik, namun setelah itu cukup buruk karena banyak bagian yang belum diaspal. Setiap orang yang berkunjung ke Srigethuk dipungut biaya Rp 2.000 sementara mobil Rp 3.000. Biaya itu sudah termasuk ongkos parkir, jadi masih sangat murah!
Selain Srigethuk, Anda juga dapat berkunjung ke Gua Rancang yang berada di desa itu. Biaya yang Anda bayarkan sudah termasuk kedua lokasi wisata sehingga Anda tidak perlu membayar lagi. Nah, saatnya wisata hemat ke Gunungkidul!
Share:

Rote Ndao - Tiang Bendera (Bagian 3)




Rencana perjalanan ke Batu Termanu masih belum berhasil, dan ternyata aku justru berhenti di Tulandale seperti yang kuceritakan pada catatan sebelumnya.
Pagi hari aku naik ke lantai paling atas hotel, aku berniat mau melihat posisi Batu Termanu. Ternyata justru malah tidak terlihat, setahuku kalo di Pelabuhan Ba'a posisi dari Batu Termanu terlihat.
Tapi saat perhatianku kuarahkan ke barat aku justru melihat view lain di ujung yang biasanya dari sini aku bisa menyaksikan matahari tenggelam. Di ujung barat tampak deretan warna putih dan beberapa batu karang  terjal di laut serta adanya beberapa bangunan kecil berbentuk kerucut. Dugaanku kerucut ini seperti lopo-lopo yang biasanya digunakan orang untuk duduk. Apakah itu tempat wisata atau tempat pribadi, entahlah. Tapi rasanya aku belum pernah mendapatkan informasi ada tempat wisata disana.


Siang hari aku menunda perjalanan ke Batu Termanu dan memutuskan untuk mencoba ke tempat itu walaupun aku tidak tahu persis seberapa jauh sebenarnya. Pokoknya asal masih bisa dilihat mata berarti masih bisa dijangkau, itu prinsipku. Kecuali lihat bulan lho, hehehe.
Jam setengah tiga aku mulai berjalan ke arah dermaga namun tidak turun di dermaga karena setauku di sana terhalangi dengan kawasan bakau yang lebat.
Dari pinggir pantai, aku menemukan ternyata kawasan di balik dermaga view pantai yang menarik. Dengan kondisi pantai yang rata-rata berpasir putih, kawasan di Rote Ndao memang cukup bagus. Rata-rata nyiur tumbuh di sepanjang alur pantai kecuali untuk daerah-daerah yang terdapat hutan bakau.
Sepuluh menit kemudian aku sampai ke Mokdale. Beberapa anak kecil yang sebagian bertelanjang dada asyik bermain bola. Sekali lagi aku menemukan daerah dengan nyiur berderet yang membuat kawasan pantai tetep enak untuk bermain biar pun siang hari.
Aku duduk mengamati mereka bermain bola, melihat aku duduk dengan kamera yang siap sedia tampaknya membuat mereka makin semangat. Kiper kecil berambut jigrak itu menunjukkan atraksi menangkap bola beberapa kali. Seorang nona manis yang berdiri tampak malu-malu menyemangati.
Yang juga menarik ternyata ada juga seorang anak perempuan kecil yang juga bertelanjang dada ikut bermain. Tapi karena badannya yang paling kecil anak perempuan ini kebagian menjadi kiper di bagian seberangku.
Dari Mokdale aku menelusuri kawasan hutan bakau yang masih asri hingga memasuki kawasan perbukitan yang agak kering. Setelah melewati dua hutan bakau aku terjebak dengan batu karang yang menjulang tegak lurus dengan karang-karang yang sangat tajam. Sekarang aku punya pilihan apakah mau tetep maju atau mundur, perjalanan masih setengah jalan. Akhirnya dengan merayap dan berpegangan akar-akar pohon yang tumbuh di sepanjang karang aku merangkak naik, untungnya aku sudah mengemasi dulu peralatan kamera. Batu-batu yang nyaris tegak 90 derajat ini untungnya karang terjal jadi banyak pegangan walau kadang terasa sakit.
Aku melewati celah yang telah ditutup, tampaknya celah ini ditutup untuk menghindari binatang lewat sini karena rawan terperosok. Sekalinya terperosok dipastikan akan ditangkap oleh jajaran karang terjal di bawah.
Dari atas bukit karang aku menelusuri jejak jalan yang pernah digunakan orang. Beberapa kali burung-burung sebesar burung dara berwarna hijau dan jenis lain yang tidak kukenal. Semoga disini masyarakat tidak punya hobi berburu burung sehingga burung disini tidak akan bernasib sebagaimana burung Kakatua Jambul Putih asli Sumba yang sekarang justru sudah tidak ditemukan lagi di Sumba.
Melewati dua bukit terjal keringat mulai bercucuran, minuman yang aku bawa tinggal separuh. Untungnya di turunan berikutnya aku menemukan daerah pantai landai, beberapa burung laut berdiri di tepi pantai dan segera terbang menjauh saat aku menuju ke sana. Di bawah aku menemukan rumput laut berwarna hijau yang terhempas ke pinggir pantai. Aku mengambil yang masih segar dan setelah kucuci kumakan. Rasanya enak khas rumput laut cuma agak asin karena aku mencucinya pakai air laut, tapi lumayan membantu aku mengisi perut yang jadi lapar.
Dari sini aku kembali harus naik bukit karang yang lebih terjal, aku sempat kehilangan  jejak namun untungnya kebiasaan mengenali medan ini membuat aku kembali menemukan jalan setapak. Namun kali ini aku harus lebih hati-hati karena jalan dibawah sepenuhnya karang terjal. Untungnya tak jauh kemudian aku sudah sampai di tempat itu. Wah lokasinya memang menarik sekali.
Lokasi ini ternyata memang ternyata telah dibangun menjadi lokasi wisata, tampak dari lopo-lopo yang masih baru. Pantai berpasir putih dengan beberapa gugusan karang yang beberapa tumbuh terpisah sungguh sebuah lokasi yang pas. Dari tempat ini kita bisa melihat matahari terbit maupun matahari terbenam.
Beberapa lama setelah aku sendiri mengitari daerah ini datang rombongan sekitar 5 motor yang rupanya anak-anak Malang yang sedang PKN di Kabupaten Rote Ndao. Dari salah satu rombongan ini aku mendapatkan informasi kalau daerah wisata baru ini dikenal sebagai Tiang Bendera. Asal usulnya berasal dari sebuah bangunan seperti kerucut panjang yang atasnya terpenggal di salah gugusan karang sisi barat.
Aku masih menunggu senja habis untuk mendapatkan foto-foto slowspeed. Saat mulai gelap aku berkemas kembali. 
Aku memutuskan menggunakan jalan karena menurut informasi salah satu rombongan tadi kalau menggunakan motor sekitar 15 menit. Dari sini perjalanan langsung menanjak dan dari atas ternyata ada beberapa spot lain yang mirip. Ternyata jalur jalan yang baru dibangun dari tanah putih tidak ada penerangan sama sekali sepanjang hampir dua kilometer, deretan pohon besar dan karang-karang besar mengapit sepanjang jalan, untung bulan setengah muncul tidak tertutup awan. Cahaya bulan dan jalan tanah berwarna putih cukup membantuku berjalan sampai aku menemukan rumah pertama.
Dari rumah pertama ini aku menemukan informasi arah menuju kembali ke Ba'a. Tiba di bukit atas aku baru mengetahui jika lewat jalan jauhnya lebih jauh dua kali lipat dibanding menelusuri pantai. Untungnya rumah-rumah yang walaupun jaraknya berjauhan satu sama lain namun sudah berpenerangan listrik. 
Di pertengahan jalan aku ditawari untuk naik ojek, hanya karena sudah setengah jalan aku memilih meneruskan dengan tetap berjalan kaki. Aku harus beberapa kali bertanya kepada setiap penduduk yang aku termui di jalan karena banyaknya percabangan di daerah ini.
Aku sampai di Ba'a sekitar jam 7.30 malam. Perjalanan hari ini walaupun capek tapi sangat menyenangkan.
Share:

Pacitan, Jawa Timur

Halo Halo Halo Halo

Sudah lama sekali aku tidak menulis, dan sudah banyak perjalanan yang tidak tercatat disini (bulan Desember awal ke Kamboja, Thailand, dan Singapura dan tahun baru ke Yogyakarta, suatu saat akan aku posting). Bukan karena super sibuk sampai tidak menulis, tapi karena sebenarnya aku tidak begitu suka menulis dan juga tidak pandai menulis. Tapi perjalanan terakhir kemarin benar-benar ingin aku ceritakan.

Di penghujung akhir bulan Febuari kemarin terdapat libur panjang di akhir pekan, karena itulah aku dan Ricco merealisasikan keinginan kita dari tahun lalu yang tertunda yaitu ke Pacitan. Banyak orang bingung dan bertanya "ada apa di Pacitan?", mulanya kami penasaran dengan Goa Gong yang kabarnya merupakan salah satu goa terindah di Asia Tenggara.

Kamis malam kami berangkat dari Stasiun Padalarang menggunakan kereta ekonomi Kahuripan dengan biaya Rp 26.000,- menuju Yogyakarta. Karena esok harinya long weekend, kami pun kehabisan tiket duduk, tinggal yang berdiri saja. Padahal kan tiket kereta ekonomi harus beli on the spot, ga bisa dari beberapa hari sebelumnya, tapi ternyata dari pagi sudah habis. Ada untungnya datang lebih cepat, jadi kami pergi ke Restorka (gerbong makan), dan ditawari duduk dengan membayar biaya tambahan Rp 25.000,- kalau duduk di bangku (yang ada mejanya) atau Rp 20.000,- di bangku tambahan (semacam bangku plastik), dan selain dapet duduk dapet makan (pilihannya nasi rames, nasi goreng, mie goreng atau mie rebus) dan minum (teh manis hangat). Daripada berdiri semalaman dan kebetulan kami juga belum makan jadi kami putuskan untuk mengambil tempat duduk. Dan ternyata benar saja, kereta benar-benar penuh, bahkan sempat di beberapa stasiun penumpang yang sudah membeli tiket tidak bisa naik karena kapasitas kereta yang sudah berlebihan. Berangkat pukul 19.30, kami sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pukul 6.00.

Sambil menunggu rombongan dari Jakarta (teman-teman Ricco), kami bebersih di toilet stasiun dan sarapan di warung makan depan stasiun yang menyediakan jasa charge HP bayar Rp 2000,-,hehe.. Rombongan JKT datang, kemudian mereka langsung mengantri membeli tiket kereta eko untuk pulang hari minggu nanti, tempat penjualan tiket belum buka tapi yang antri sudah panjang sekali. Klo untuk kereta eko yang dari dan ke jkt, kita bisa beli tiket beberapa hari sebelumnya, tidak seperti yang ke BDG.

Kami akan ke Pacitan dengan menggunakan dua mobil milik Mbak Tari (teman Ricco dari JKT yang asli orang Yogya). meeting point selanjutnya dengan Mbak Tari di bandara, sehingga dari stasiun kami harus jalan kaki ke Malioboro dan kemudian naik Trans Yogya menuju bandara. Total peserta trip kali ini ada 13 orang, aku dan Ricco dari BDG, Mas Andi dan Mbak Anis (temanku dari Yogya), 7 orang teman Ricco dari JKT, dan 2 orang saudara Mbak Tari yang bawa mobil.

Perjalanan dari Yogya menuju Pacitan kurang lebih 3-4 jam menggunakan mobil, dengan kondisi jalan yang benar-benar super metal, dan supir kami Mas Wahyu, anak UGM angkatan 2004, yang juga metal dan aku akui jago banget nyetirnya, ternyata dia sudah melanglang buana ke pedalaman papua dan juga bali sampai satu tahun,pantas saja. Setelah mpet-mpetan di kereta eko, jalan kaki di Yogya dan perjalanan mpet-mpetan dalam mobil tanpa AC tanpa henti bikin kelaparan. Sampai di kota Pacitan, kami berhenti di sebuah warung pecel. Fyi, lontong pecel dengan porsi kuli dan rasa yang enak cukup dengan Rp 3.000,- saja.

Kota Pacitan tidak begitu besar, dan bahkan tidak ada pusat perbelanjaan (mall) disana. Bahkan jalan menuju kotanya bukan jalan besar, jalannya berlika-liku tebing dan hanya cukup dilalui untuk dua mobil kecil (dua arah). Tapi jalanan di kota cukup besar, dan banyak tempat makan. Tapi saat keluar dari kota, maka sinyal pun hilang, jadi lebih baik kalau sedang tidak di kota, hp lebih baik dimatikan. Setelah makan kami langsung menuju ke pantai Sidomulyo, lalu ke Banyu Anget (tempat pemandian air hangat yang aneh, mending ciater atau cipanas garut pokoknya), lalu mendirikan tenda di pantai Teleng Ria. Di Pantai teleng Ria soal pemandangan biasa saja, tapi disana banyak warung-warung jadi ga repot cari makan, listrik dan toilet.

Pagi hari kami langsung berangkat kembali ke Srau, Watukarung dan Pasir Putih. Dan di pantai Srau, kami bertemu dengan para surfer-surfer bule, wuah kenapa ya sering kali kok bule-bule itu lebih tau ya tentang negara kita, dibandingkan orang kita sendiri. Di antara ke tiganya, yang paling lumayan adalah pantai Srau. Dan setelah itu, akhirnya, Goa Gong! Dan ternyata Goa Gong memang benar-benar bagus, pemerintah setempat sudah menjadikannya tempat wisata, jadi di dalamnya tidak perlu repot karena sudah ada jalan dan tangga, selain itu sudah bdi kasih lampu warna-warni, yah jadi agak kurang sih kealamiannya. kenapa disebut goa gong? karena di dalamnya terdapat sebuah batu besar, dimana kalau dipukul akan bunyi "Gong..Gong..." Lalu sempat mampir ke Goa Tabuhan, goa ini jadi kurang menarik karena kami baru saja dari Goa Gong, khasnya adalah batu-batu yabng dipukul berbunyi seperti gamelan, tapi sayangnya hanya boleh dipukul oleh petugas, dan kalau mau dengar lagunya dikenakan biaya 1-5 lagu seharga Rp 70.000,-, wew cukup mahal kan... Yang cukup unik, tempat-tempat wisata yang kami datangi cukup jauh dari pusat kota Pacitan, tapi akses jalannya paling tidak sudah di aspal. Dan sepanjang perjalanan dimana-mana kami melihat berbagai macam plang kayu dengan tulisan himbauan yang sama setiap hampir satu meter sekali, dengan berbagai jenis kalimat tapi intinya adalah "dilarang buang air besar (BAB) sembarangan". Wuah apakah orang-orang desa nya masih sebegitunyakah, dan mungkin itu juga sebagai pengingat untuk para wisatawan "hati-hati banyak ranjau",hehe...


PANTAI SRAU


Goa Gong- Serasa masuk ke rumah Superman, Kryptonite



Inilah mengapa disebut Goa Gong, kalau kita pukul akan berbunyi seperti Gong

kemudian kami mendirikan tenda di pantai Klayar. Dan di antara seluruh pantai yang aku datangi di Pacitan, pantai inilah yang paling indah! Kalau kalian kesana, mengingat tidak ada penginapan (bahkan listrik pun tak ada), jadi kalian harus bawa tenda, sleeping bag, senter, perlengkapan standar untuk camping, agar tidak melewatkan sunset dan juga sunrise nya. Kalau menurutku rugi banget udah jauh-jauh kesana dan ga lihat sunset serta sunrise, tapi sayang agak berbahaya untuk bermain air disini karena ombaknya kencang. Pantai klayar ini punya tebing-tebing yang ga kalah keren dari pantai Kuta-Tanjung Aan Lombok, yang membedakan emang pasir di pantai Kuta Lombok ga ada yang ngalahin! Di pantai Klayar ada warung makan yang akan buka sampai magrib, selewatnya kita bisa pesan ke rumah pak RT setempat, yang dengan motor sekitar 10 menit, kemarin satu nasi bungkus pakai sayur, tempe, dan telur dadar cukup Rp 4000,-, dan pagi hari ibu RT akan buka warung di pantai dan kita bisa pesan indomie, hehe... Ada mushola dan kamar mandi umum, tapi sayangnya ga ada listrik, jadi harus sedia senter, dan untuk mandi harus nimba air dulu dari sumur.


PANTAI KLAYAR


sunset di pantai Klayar


sunrise di pantai klayar *bermain dengan air yang menyembur dari sela-sela karang itu loh


Di pacitan tidak ada angkot, jadi lebih baik sewa motor atau bawa kendaraan pribadi seperti mobil. Di kota banyak terdapat penyewaan motor dan mobil, jadi ga perlu repot. Dan karena disana jarak tempat wisata sangat jauh, dengan kondisi jalan yang berlika-liku. Harus banyak bertanya sama warga supaya ga nyasar, hmm lebih baik lagi kalau bisa berbahasa Jawa!

Pagi hari dari Klayar kami langsung menuju Yogya kembali, lebih tepatnya Bantul sanaan lagi, kami pergi ke Goa Cerme. Untuk masuk goa cerme harus rela berbasah-basahan, dan pakai helm yang disediakan kalau masih sayang kepala, jangan lupa untuk masuk bersama pemandu. Perjalanan yang kami tempuh dalam goa dan berjalan kembali ke parkiran sekitar 2 jam, dan cukup melelahkan. Setelah mandi, kami langsung menuju Yogya karena teman-teman rombongan JKT harus mengejar kereta Progo. Aku dan Ricco turun duluan untuk makan gudeg, jalan-jalan ke alun-alun dan Malioboro, lalu mendengar kabar dari teman Ricco yang mencarikan tiket bus untuk pulang bahwa seluruh bus menuju bdg malam itu sudah penuh. Karena badan sudah sgt capek, kami ga sanggup lagi naik kereta eko, mengingat berangkatnya dari kediri jadi sampai Yogya pasti sudah sangat penuh dan kami harus berdiri di gerbong semalaman, jadi kami putuskan naik bus, supaya bisa tidur. Saking paniknya akhirnya kami beli tiket bus Budiman yang menuju Tasik, Rp 65.000,- AC dan dapat makan malam, hehe. Sesampainya di Tasik pukul 2.00 sempat terlantar di Pool Budiman karena menunggu bus lanjutan yang menuju Bandung, setelah hampir menunggu 1 jam akhirnya bus dari Solo menuju BDG lewat dan kami naik, tapi bayar lagi RP 25.000,-. Lumayan deh, tapi yang penting cepat sampai dan cepat istirahat. :)
Share:

Pangandaran, Jawa Barat

                                   
                                                                      Happy SUN(ny)DAY !

Dengan badan sedikit lelah dan pegal-pegal, bersemangat menulis. Padahal jam 1.30 dini hari tadi baru saja menginjakan kaki di rumah, setelah mengunjungi Pangandaran, berangkat hari jumat jam 23.00 WIB dari Bandung. Yup, aku dan beberapa teman kampus baru saja pulang dari Pangandaran PP tanpa menginap, dengan tujuan survey untuk liburan angkatan. Tapi yang unik adalah setelah tadi berbincang dengan Bala di YM, aku baru tersadar tepat di hari yang sama 1 tahun lalu, aku pun pergi ke Pangandaran untuk body rafting di Green Canyon. Thanks Bala sudah mengingatkan, jadi seperti ritual di tgl 10 April ya, hehe.

Perjalanan kali ini, didampingi oleh ceu' Ika (panggilan sayang jadi Cika), teman kampus yang asli orang Ciamis, dan kebetulan mendapat tempat KKN di Pangandaran. Selain survey tempat menginap, kami pun mengunjungi obyek-obyek wisata di Pangandaran. Green Canyon, Batu Karas, pantai barat dan timur, Cika juga membawa kami ke Sasak Gantung dan Citumang river. Sebenarnya Cika bilang masih banyak tempat wisata lain di Pangandaran yang bisa dikunjungi, tapi sayang waktu kami sangat terbatas.

Sempat mencoba banana boat di batu karas, satu Banana Boat bisa dinaiki 5 orang, setelah tawar menawar akhirnya satu orang dikenakan biaya Rp 30.000,-, hmm mungkin kalau weekdays bisa lebih murah.


before banana boat

Sasak gantung, sebuah jembatan gantung yang terbuat dari rotan, letaknya tidak jauh dari Batu Karas, menjadi sebuah jembatan yang sangat penting bagi kehidupan warga sekitar. Banyak dilalui pejalan kaki, dan juga sepeda motor. Sensasinya ya pada saat jalan di atasnya, apalagi lari-lari, pasti bergoyang, dan kebetulan pada saat di atas jembatan ada sepeda motor yang lewat, kita harus berdiri ke tepi jembatan sambil berpegangan ke kawat yang menjadi pagar jembatan. Karena kami bukan warga sekitar dan pengunjung, masing-masing orang dikenakan biaya Rp 1000,- oleh penjaganya.





Citumang river, sebenarnya tidak begitu juauh dari Pangandaran, tetapi sayang petunjuk jalan menuju kesana sangat kurang dan akses jalannya juga tidak begitu bagus, padahal ini salah satu obyek wisata yang masuk dalam program Visit Pangandaran. Dan bagi yang belum pernah kesana, memang harus ada yang mengantar, dari tempat parkir mobil yang terdapat warung-warung, ada guide sekitar yang biasanya akan menawarkan untuk mengantarkan, karena memang jalan yang harus dilalui tidak seperti menuju sebuah tempat wisata, kami saja kemarin bingung waktu dibawa Cika kesana. Masing-masing orang dikenakan biaya masuk Rp 5000,-. Dan ternyata di sungai citumang ini juga terdapat body rafting, dengan track yang jauh lebih pendek dan juga biaya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan body rafting di Green Canyon. Di Green Canyon, bisa makan waktu hingga 5-6 jam, arus lebih kuat dan batu karang lebih banyak, intinya sih jauh lebih sulit dibanding Citumang, tapi untuk view memang Green Canyon lebih oke. Yang unik dari Citumang yaitu terdapat sebuah goa yang bisa kita masuki tapi tetep dengan berenang, sayangnya saat kemarin kami kesana, air lagi tinggi, jadi kami cuma bisa masuk ke dalam goa sampai 40 meter, daripada ga keluar-keluar lagi kan?hehe. Kalau memang mau body rafting, terutama seperti kami, body rafting sampai menuju tempat parkir mobil lebih baik menyewa life vest dengan biaya Rp 10.000,-, nanti dapet satu orang guide juga. jangan lupa kasih tips untuk aa' guide nya juga loh, seikhlasnya.

Sebenarnya dulu di Citumang ini juga terdapat perahu-perahu seperti di Green Canyon, tapi sayang akibat banjir, perahu-perahunya terseret arus entah kemana, hahaha.

Sayangnya, karena kami body rafting tanpa persiapan, mendadak begitu saja jadi aku ga bawa si miumiu, kamera kebanggaan untuk nyemplung-nyemplung di air, jadi ga ada foto saat body rafting deh. tapi kami tetap sempat dong melakukan sesi foto di awal-awal, hehe maaf jika foto-foto dibawah ini menohok mata Anda semua. hahaha







Model dadakan:



NB: dua temanku ini normal kok, cuma kelakuannya aja yang minus,hahaha *peace love n gaol ya ichan dan teguh

Makan siang di pasar ikan, pangandaran, jangan lupa untuk nawar ya! Kami pesan ikan kakap putih bakar, cumi goreng tepung, cumi saos padang, tumis kangkung tentu saja beserta nasi habis sekitar Rp 110.000,-. Hmmm sebenarnya ga begitu beda jauh ya harganya dengan makan seafood di Bandung, tapi masa dah pergi ke pantai tapi ga makan seafood kan aneh,hehehe.

Hasil survey: selain mendapat beberapa pilihan tempat menginap dan obyek wisata untuk liburan angkatan nanti, banana boat dan body rafting telah terbukti aman. hehehe

http://winasheila.blogspot.com/
Share:

Pulau dewata Bali




snorkeling


salah satu pantai di nusa lembongan, dream beach


jembatan yang mebghubungkan lembongan-ceningan


salah satu pantai indah yang ada di Nusa Ceningan, dimana pada saat air laut surut, kita bisa bermain dan bahkan berenang di "kolam renang alami"





winda and kak dipta at mangrove forest

Jika kalian melihat peta, masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi, seperti goa, namun kami kehabisan waktu karena harus mengejar kapal menuju sanur. Kapal cepat dari Lembongan ke Sanur berangkat pukul 11.00 dan 15.00 WITA.

Nusa Lembongan dapat menjadi alternatif saat berkunjung ke Bali, cukup murah dibandingkan tempat wisata lainnya di Bali, dan masih terjaga karena pengunjungnya tidak begitu ramai bahkan saat kami disana sedikit sekali menemukan wisatawan lokal karena mayoritas wisatawan asing, banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi namun cukup menginap selama satu atau dua malam.

Selama di Bali, kami juga sempat berbelanja, ber-sunset ria di pantai, bermain paraseling dan flying fish di benoa dan tidak ketinggalan berwisata kuliner.





Thank you so much to Ivan Risnu Ghifari for all the photos...

http://winasheila.blogspot.com/
Share:

Pulau Sempu Wisata Pantai di Kala Liburan

Para Photograp beraksi di pulau sempu
Bulan Januari dan Febuari merupakan musim mussim liburan terutama bagi anak kuliahan, bagi teman teman yang masih bingung mau liburan kemana, daripada bengong di rumah ato di kosan, mungkin tempat wisata yang di bahas di posting ini bisa menjadi alternatif liburan teman teman.
Pulau Sempu. Pulau Sempu adalah pulau yang terletak di malang selatan tepatnya berada di selatan Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Pulau ini tidak berpenduduk dan hanya terdiri dari hutan berbukit yg sebagian besar adalah hutan mangrove. Pulau sempu memiliki sebuah danau yaitu segara anakan, danau ini merupakan danau pasang surut air laut yang indah. Meskipun memiliki kedalaman sekitar 5 meter, danau ini aman untuk kegiatan snorkling ataupun hanya sekedar berenang karena sudah terbebas dari ombak laut lepas samudra hindia. Snorkling di segara anakan memberikan nuansa tersendiri karena terumbu karangnya masih alami dan belum tersentuh tangan-tangan jahil manusia.
Persiapan peralatan dan perbekalan
Suasana pulau Sempu
Peralatan dan perbekalan yang perlu dipersiapkan tidaklah berbeda dengan yang kita siapkan untuk tracking atau naik gunung, karena di pulau sempu tidak terdapat pemukiman penduduk. Peralatan yang disarankan meliputi : Tenda, sleeping bag, kompor paraffin atau briket standart TNI, trianggia (kalo ada) , pisau, peluit, senter, korek api, kail ikan (pancing), jas hujan, jaket, dan sepatu cat ala tracking, Handy Talky (untuk menjaga kontak dengan pengawas perhutani di sendang biru). Perbekalan yang disarankan meliputi : Persediaan makanan, Air bersih yang cukup mengigat di pulau sempu tidak ada sumber air tawar, Cream anti nyamuk, Garam curah (untuk ditaburkan disekeliling tenda sebagai pengusir ular).
Peruhu Perahu pulau sempu
Tujuan pertama adalah  kota malang, tepatnya terminal arjosari atau stasiun malang baru yang merupakan pintu mode trasportasi antar kota sekaligus pintu masuk ke kota malang.
  1. Pintu Masuk Kota Malang
  2. Terminal Arjosari : terminal ini merupakan terminal antar kota. Dari terminal Arjosari naik angkot ke terminal dalam kota Gadang. Angkot yang digunakan adalah angkot dengan label AG (arjosari gadang) dengan tarif  Rp.3000,-
  3. Stasiun Malang Baru : stasiun ini merupakan stasiun antar kota. Dari stasiun Malang Baru naik angkot ke terminal dalam kota Gadang. Angkot yang digunakan adalah angkot dengan label LG (landungsari gadang) dengan tariff Rp.3000,-
Bandara Abdul Rahman Saleh : Kalo anda memilih naik pesawat untuk menuju malang diasarankan ke Surabaya terlebih dahulu karena harga tiket pesawat akan jauh lebih murah.(buktikan). Ya kalau sudah terlanjur dari bandara anda terpaksa naik taksi bro, karena di malang belum ada bis bandara seperti di Jakarta ataupun Surabaya. Naik taksi ke terminal Gadang.
  1. Gadang ke Pasar Turen
Mode transportasi yang  digunakan adalah angkot berupa Isuzu Elf . Angkot yang digunakan biasa disebut Bison dengan tarif Rp.4000,- . Perlu diperhatikan adalah angkot ini tidak ada di waktu sore. Disarankan mulai tiba di Gadang tidak lebih dari jam 1 siang (mengingat ketersedianan angakutan ke rute berikutnya)
2. Pasar Turen ke Sendang Biru
Mode transportasi yang digunakan adalah angkot tapi jangan heran kalo dimuatin penumpang dengan jumlah yang amazing. Angkot adalah Mobil Suzuki carry dengan muatan sampe 15 orang. (buktikan). Rute yang dilaluinya pun berupa rute pegunungan naik turun seperti layaknya naik Roller Coaster di Dufan (Hahahaha). Tarif untuk angkot ini umumnya borongan tapi kalo dihitung2 per orang ga lebh dari RP.3000,-.
3. Sendang Biru ke Pulau Sempu
pulau sempuKe pulau sempu dapat ditempuh dengan perahu. Harga sewa perahu adalah borongan artinya sewanya adalah per trip. Untuk perahu motor Rp.70.000,- sampe Rp.100.000,- dan untuk perahu dayung Rp.30.000,- sampe Rp.50.000,-. Disarankan untuk pergi berkelompok karena akan menghemat biaya sewa perahu. Yang perlu anda lakukan di sini adalah daftar ke pos pengawasan perhutani dan membayar uang administrasi Rp.2000.- per orang. (jangan lupa minta peta pulau sempu dan nomor HP pos pengawas atau setting frekwesi Handy Talky). Apabila anda sampai di sendang biru sudah sore atau diatas tengah hari sebaiknya berkemah disendang biru, karena perjalanan ke danau anakan masih sekitar 5 jam lagi. Sendang biru merupakan dermaga nelayan dan tempat pelelangan ikan. Disarankan anda membeli ikan disini sebagai tambahan persediaan makanan. Pada malam hari sebaiknya anda bongkrong di warung untuk berbaur dengan masyarakat setempat dan cari info perahu yang bias mengantar anda saat pagi, sebaiknya anda mencari perahu yang bisa menjemput anda kembali di pulau sempu saat anda berniat pulang. Hal ini harus di bicarakan terlebih dahulu karena tidak tiap kali ada perahu ke pulau sempu. Disarankan untuk minta nomor HP dari pemilik perahu.
Di pulau sempu anda akan mendarat di bagian utara pulau sedangkan Segara Anakan berada di sebelah selatan dari pulau. Terdapat jalan setapak berikut petunjuk jalannya, anda akan berjalan melewati hutan menaiki perbukitan selama 3 sampai 4 jam (disarankan anda memilih jalan yang bersih dan selalu berbelok ke kiri setiap ada persimpangan). Setelah sampai segara anakan sebaiknya anda langsung mencari kayu bakar sebagai api unggun sebelum gelap dan membuat tenda sebagai peneduh.
Tenda tenda di pulau sempu
Keindahan Pulau Sempu dapat anda nikmati dari pagi hingga datang gelap. Di Segara Anakan merupakan tempat yang bagus untuk memancing, anda bisa memancing ikan laut sebagai lauk pauk. Anda juga bisa snorkling seharian mengelilingi Segara Anakan dengan pesona terumbu karangnya. Anda juga bisa bermain bola ataupun sekedar bejemur tidur-tiduran di pantai pasir putih yang halus dan semilir angin yang penuh kedamaian.
Pulau sempu sendiri terdapat sebuah danau yang di namai Telaga Lele karena didalamnya banyak dihuni ikan jenis ini dan di lindungi.  Selain itu, pengunjung juga bisa bersantai dengan bermain voli pantai. Bagi yang menyukai suasana alam yang asli, jauh dari kebisingan kehidupan modern, Pulau Sempu memberikan solusi, hanya memang jangan mengharapkan ada hotel berbintang, selain tempat tidur yang dibawa sendiri. Disamping itu juga bisa memanjat karang yang mengitari Segara Anakan, dari atas karang kita bisa melihat deburan ombak laut lepas yang mengikis terbing2 raksasa, sangat indah memang.
Pulang dari Pulau Sempu .Ketika anda beranjak pulang disarankan berangkat pagi hari sehingga anda sampai pada balik bukit pada tengah hari. Selanjutnya menunggu jemputan perahu sesuai perjanjian anda dengan pemilik perahu. Sambil menunggu jemputan ada baiknya anda menyiapkan makan siang dengan membakar ikan atau bahan makanan lainnya yang anda bawa. Pada waktu sampai sendang biru kemungkinan sudah tidak ada angkutan menuju ke pasar turen, lagi-lagi anda diharuskan untuk berkemah di sendang biru. Keesokan paginya akan ada banyak angkutan yang datang untuk menggangkut orang ke Pasar Turen.
Happy holiday , keep enjoy…



Share:

Tips Berlibur Ke Bali dengan kantong Tipis


          Bali merupakan tempat favorit yang sering dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri maupun manca negara, tidak heran bahwa orang asing biasanya lebih mengenal Bali dari pada Indonesia, seperti kita tahu, di Bali sangat banyak tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi ( termasuk rumah saya ). seperti, pantai Kuta, pantai Sanur, Ubud Tanah Lot dan segainya. Ada yang mengatakan bahwa di Bali kita dapat menjumpai orang dari manapun di Dunia, Prancis, Amerika, Arab, Korea, Jepang semua dapat kita temui di Bali, maka jangan menyebut diri sebagai orang Indonesia kalau sudah pernah ke luar negeri tapi belum pernah ke Bali, orang luar negeri saja jauh - jauh datang ke Bali, masa kita yang di dalam negeri ga pernah ke Bali. Apa kata dunia..


Beberapa tempat wisata di Bali :

  • Ground zero, ini adalah monumen bom Bali pertama. Disana terpampang nama-nama korban bom bali, Anda akan menjumpai monumen ini dalam perjalanan menuju pantai Kuta. Semoga tidak ada lagi kekacauan di Bali, karena dari informasi yang kami dapat dari penduduk di sana, pariwisata Bali sangat terpukul dengan adanya bom bali 1 dan 2. Turis asing yang datang berkurang drastis, dan banyak pengusaha yang gulung tikar. Padahal mayoritas penduduk Bali bergantung pada usaha pariwisata.

  • Sepanjang jalan menuju pantai Kuta terdapat deretan bar, resto, hotel dan juga toko-toko yang menjual pakaian, lukisan, barang seni, dll. Tapi saya menyarankan untuk membeli oleh2 di kawasan lainnya karena sebenarnya target pembeli di kawasan ini adalah turis asing. Harga barang disini dapat dikatakan cukup tinggi. Mengapa ?? Karena harga sewa toko di kawasan ini harganya selangit lho.. 

  • Pantai Kuta. Ini adalah pantai wajib bagi para turis. Pantai ini memiliki ombak yang bagus, sehingga banyak peselancar bermain di pantai ini. Pantai ini sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan manca negara, umumnya mereka berenang, berjemur, surfing, berlari sepanjang pantai. Untuk masuk ke dalam kawasan ini tidak dipungut bayaran, paling hanya biaya parkir saja. Di pantai ini, Anda akan mendapati para penjaja jasa pijat, mengepang rambut, temporary tatoo, sewa kursi, wah pokoknya ramai sekali disana. Jika Anda hanya berlibur singkat tapi ingin merasakan pantai ini, nikmatilah beberapa saat saja, ingat kita ingin liburan kan ?  Bukan mau berenang … :D 

  • Hardrock hotel, di tempat ini Anda dapat berenang di kolam yang besar dan nyaman. Kolam renangnya berair hangat lho, jadi jangan khawatir kalau Anda renang sampai malam. Di tengah kolam ada area yang berpasir, cukup unik, karena pasir tersebut sangat bersih dan tidak membuat kotor kolam. Ada air terjun, ada kolam anak yang dilengkapi seluncuran, dan bahkan dipasang layar projector yang menayangkan film. Kamar gantinya pun bagus, handuk, sabun semua tersedia lengkap. Namun harga tiket masuk kolam renang disini lumayan mahal, 100 ribu per orang. Selain kolam renang, di sini juga terdapat spa, gym, kafe, bahkan ada radio hard rock bali lho di dalamnya, kita dapat melihat mereka sedang on air. 

  • Tanjung Benoa. Di pantai ini kita dapat melakukan banyak olahraga air, seperti jetski, parasailing (parasut yang ditarik oleh speedboat), banana boat, flying fish (tadinya saya pikir permainan ini biasa saja, tapi setelah melihatnya langsung bagaimana permainannya, wauw.. seru banget), diving, bottom glass boat. Anda dapat menyewa kapal yang di dasarnya dipasang kaca sehingga dapat melihat ke dalam air. Hati-hati saat menyewa, harga price list yang ada itu dapat ditawar gila-gilaan. Untungnya sebelum berangkat saya sempat browsing dan mencari informasi harga permainan2 tersebut. Berikut adalah beberapa harga yang sempat saya dapatkan di internet (Juli 2008)
  • Parasailing : Rp 55.000 / orang
  • Banana boat : Rp 50.000 / orang (min 2 org)
  • Flying fish : Rp 120.000 / orang (min 2 org)
  • Water skiing : Rp 110.000 / org, 15 menit
  • Snorkeling : Rp 90.000 / org (min 2 org)
  • Diving : Rp 235.000 / org
  • Glass bottom boat : Rp 250.000 / boat (max 10 org)
  • Dolphin tour : Rp 500.000 / orang / 4 jam

  •  Garuda Wisnu Kencana (GWK). Berada di daerah Jimbaran, bagian Selatan pulau Bali, di sini akan dibangun patung besar yang berbentuk dewa Wisnu yang sedang duduk di atas burung garuda. Saat Juli 2008, bagian patung raksasa yang dirancang oleh I Nyoman Nuarta tersebut masih terpisah, patung dewa Wisnu, patung garuda dan juga tangan dewa Wisnu. Patung ini akan menjadi suatu simbol sama seperti patung Liberty di Amerika. Lokasinya di atas bukit, cukup indah pemandangan di sana. GWK juga dilengkapi dengan areal untuk teater yang menampilkan sendra tari Bali (tergantung jadwal pertunjukan). Di depan gerbang masuk, disambut oleh musik Bali yang mengiringi 2 orang penari Bali yang menyambut tamu. Tidak ketinggalan di GWK terdapat beberapa toko, kios makanan bahkan factory outlet (tempat idola ibu-ibu). Beberapa operator tour menjadikan GWK lokasi untuk makan sore sambil menikmati matahari terbenam. Tiket masuk Rp 15.000 / orang + mobil Rp 5.000. Agak mahal untuk masuk ke tempat ini, tapi jika patung ini sudah jadi, maka tempat ini pasti menjadi ‘tempat wajib dikunjungi’.

Nah, cukup sekian dulu tempat - tempat yang saya jelaskan, sekarang, bagaimana sih cara mengatur uang kita agar cukup berlibur di Bali...??
Ada 2 tips yang perlu diingat, sebelum merencanakan bepergian dengan Dompet Tipis,,, yaitu sebagai berikut :

a. Hindari High Season/ lakukan pemesanan perjalanan sejak beberapa bulan sebelumnya.
b. Serta rajin2 pula mencari paket2 Promo murah meriah dari maskapai, hotel, & agen2 perjalanan.

Hasilnya  ?? it`s SHOCKINGLY FUN & AFFORDABLE !!

Jangan Terintimidasi dulu dengan berbagai penawaran berlibur di Pulau Dewata yang hampir tiap hari diiklanin di berbagai media, palagi menjelang musim liburan. Nyooh, kita buat “PAKET” sendiri, sesuai kantong - kantong kita,,,,


HARI 1 – BEACH DAY :
Begitu mendarat, Kuta – Legian disarankan menjadi rujukan, karena di sinilah paling banyak bertebaran budget hotels yang bersih dan nyaman. Biaya TAXI ke KUTA plg murah [Rp 80.000]. Susuri gang- gang kecil di kawasan ini, sambil memasuki setiap penginapan. Sabar & santai, tak perlu terburu-buru memutuskan. Periksa dulu kelayakannya. Setelah mendapat penginapan pilihan [Rp 100.000/malam], kegiatan hari pertama tak perlu terlalu “ambisius”. Bermalasan sajalah di Pantai Kuta [Rp 100.000] sambil menanti sunset. Aktivitas Body Boarding juga cukup terjangkau [Rp 50.000]. TOTAL : Rp 440.000

HARI 2 – UBUD & SEKITARNYA :
Opsi transportasi termurah adalah motor [Rp 50.000/hari]. Tapi jika Anda kurang mahir mengendarai motor, sewalah mobil kecil seperti Suzuki Karimun [Rp 250.000/10jam]termasuk supir. Lebih murah daripada TAXI ! Kunjungi Bali Safari & Marine Park [Rp 110.000], dari pagi hingga tengah hari. Lalu beranjak ke Sacred Monkey Forest Sanctuary [Rp 15.000]. Jajaran galeri, puri & pura juga patut dikunjungi. Jika ingin berbelanja, Pasar Sukawati tempatnya. TOTAL : Rp 375.000

HARI 3 – OTHER DESTINATION :
Dengan motor [Rp 50.000/hari]/ mobil [Rp 250.000/jam], kunjungi lokasi lain seperti Tanah Lot, Bedugul, desa-desa adat, ataupun tempat-tempat lain sesuai ketertarikan Anda. Anggarkan sedikit saja untuk tiket masuk dan parkir [Rp 50.000]. TOTAL : Rp 300.000

HARI 4 – SEBELUM PULANG:
Hari terakhir, telusuri Kuta – Legian dengan berjalan kaki, lalu naik taksi ke bandara [Rp 80.000]. TOTAL : Rp 80.000. Dengan biaya pesawat & alokasi dana cadangan untuk berbelanja, airport tax, & keperluan lainnya, anggaran Anda tetap dibawah Rp 3juta !!

(A Few) Kuta Budget Hotels

Rate = Rp 25.000 – Rp 175.000/malam


KEPERLUAN Biaya (Rp)
• Pesawat JKT – DPS (PP) [Rp.1.000.000]
• Anggaran untuk makan-minum selama 4 hari [Rp. 275.000]
• Dana cadangan, termasuk untuk airport tax & shopping [Rp. 500.000]
• Aktivitas hari ke-1 – ke-4. 1.000.000 [Rp. 1.195.000]

TOTAL 2.970.000

 
Cukup murah bukan bagi kita yang memiliki kantong kering,,,, nah, sekarang selamat berlibur ke Bali, semoga kantong anda cukup untuk berlibur di Bali,
Having fun..,,


Source : www.jalanjajanhemat.com
             www.kaskus.us
Share:

Pengikut

Popular Posts

Blog Archive